Model dan Pola Bimbingan dan Konseling dalam Lintas Sejarah

MAKALAH
BIMBINGAN DAN KONSELING
Model dan Pola
Bimbingan dan Konseling dalam Lintas Sejarah



Disusun Oleh : Kelompok I
1.      Adia Ratu Rosadi          (15010304  )
2.      Fitri Purnama Sari          (15010304  )
3.      Fathul Aziz                    (1501030422)
4.      Meri Kartika                   (1501030421)


JURUSAN TADRIS MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAMMATARAM

2016

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita bisa melakukan aktivitas kita dengan baik, sehat wal‘afiat khususnya kepada penulis sehingga “Makalah Bimbingan dan Konseling” ini bisa diselesaikan  dengan baik.
Tak lupa pula kita sampaikan salam serta shalawat kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Saw yang telah mengayomi kita semua dengan cinta kasih serta perjuangan beliau sehingga kita bisa menghirup udara segar ini penuh dengan nikmat yang tak akan mampu kita menghitungnya.
Kami selaku Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah dan penulisan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan bagi kami khususnya. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Daftar Isi

COVER
KATA PENGANTAR............................................................................   i
DAFTAR ISI..........................................................................................  ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................   1
A.    Latar Belakang................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah............................................................................ 2
C.     Tujuan............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN......................................................................   3
A.    Bimbingan dan Konseling Konprehensif dalam Lintas Sejarah.......  3
B.     Model-model Bimbingan dan Konseling.........................................  7
1.      Model-model Bimbingan dan Konseling Menurut Para Ahli...  7
2.      Macam-macam Model-model Konseling.................................. 7
3.      Model-model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan Konseling  8
C.     Pola-pola Bimbingan dan Konseling................................................ 11
BAB III PENUTUP..............................................................................   14
A.    Kesimpulan.......................................................................................  14
B.     Kritik dan Saran...............................................................................  15

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bimbingan dan Konseling berasal dari dua kata, yaitu bimbingan dan konseling. Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang di dalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer dan Stone (1966:3) mengemukakan bahwa guidance berasal dari kata guide  yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer, artinya: menunjukkan, mengarahkan, menentukan, mengatur, atau  mengemudikan.
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seseorang yang ahli. Akan tetapi, tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian bimbingan. Pengertian bimbingan formal telah diungkapkan orang setidaknya sejak awal abad ke-20, yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu, muncul rumusan tentang bimbingan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan, sebagai suatu pekerjaan yang khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli memberikan pengertian yang saling melengkapi satu sama lain.
Dalam pembahasan kali ini, kita akan lebih banyak membahas tentang “Model dan Pola Bimbingan Konseling dalam Lintas Sejarah” yang dimana menurut Frank Parson model bimbingan dan konseling bahwa ia menciptakan istilah Vocational Guidance yang menekankan ragam jabatan bimbingan dengan menganalisis diri sendiri, analisis terhadap bidang pekerjaan, serta memadukan keduanya dengan berfikir rasional dan mengutamakan komponen bimbingan pengumpulan data serta wawancara konseling.
Menurut hasil analisis Edward C. Glanz, (1964) dalam sejarah perkembangan pelayanan bimbingan di instusi pendidikan muncul empat pola dasar, yaitu : Pola Generalis, Pola Spesialis, Pola Kulikuler dan Pola Relasi-relasi Manusia dan Kesehatan Mental.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Bimbingan dan Konseling Komprehensif dalam Persepektif Sejarah ?
2.      Bagaimana model-model Bimbingan Konseling Menurut Para Ahli ?
3.      Apa saja macam-macam model-model bimbingan dan konseling ?
4.      Apa saja model- model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan Konseling ?
5.      Apa saja pola-pola bimbingan dan konseling ?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui Bimbingan dan Konseling Komprehensif dalam Persepektif Sejarah
2.      Untuk memahami model- model Bimbingan Konseling Menurut Para Ahli
3.      Untuk mengetahui model- model Bimbingan Konseling
4.      Untuk mengetahui model-model pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling
5.      Untuk memahami pola-pola bimbingan dan konseling

BAB II
PEMBAHASAN
Model dan Pola Bimbingan Konseling dalam Lintas Sejarah

A.    Bimbingan dan Konseling Komprehensif dalam Persepektif Sejarah
Di Amerika Serikat, latar kelahiran BK di awal abad 20 bermula dari keperihatinan yang mendalam dari  kalangan dunia pendidikan terhadap carut-marutnya perkembangan kepribadian generasi muda terutama kalangan pelajar di sekolah yang terkena dampak gelombang besar industrialisasi di kota-kota besar, jumlah siswa drop-out meningkat (kaum muda lebih memilih bekerja ketimbang sekolah, sementara keterampilan kerja tidak memadai), pergeseran nilai dalam keluarga dan masyarakat, urbanisasi besar-besaran dari desa ke kota, dan problem-problem sosial yang lain.
Kenyataan tersebut akhirnya memicu tumbuhnya layanan bimbingan dan konseling sebagai suatu gerakan sosial yang selaras dengan gerakan kemajuan (progressive movement) yang berkembang dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat pada saat itu yang dipelopori oleh tokoh-tokoh pendidikan saat itu, seperti Frank Parsons, Charles Merrill, Meyer Blommfield, Jesse B. Davis, Anna Reed, E. W. Weaver dan David Hill. Para tokoh tersebut sama-sama memandang secara kritis bahwa gelombang revolusi industri yang membawa dampak negatif bagi perkembangan generasi muda harus dicegah. Gerakan bimbingan yang muncul di AS dalam bentuk bimbingan pekerjaan (vocational guidance) tersebut membawa pengaruh besar terhadap banyak negara lainnya, seperti Filipina, Malaysia, India, dan tidak terkecuali Indonesia.  Gunawan menjelaskan bahwa pada periode awal kemerdekaan masalah bimbingan pekerjaan baru diperhatikan oleh jawatan yang mengurus masalah tenaga kerja.
Kegiatan bimbingan kemudian dikembangkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan dengan mengembangkan banyak kursus keterampilan bagi kaum muda. Baru pada tahun 1962, ada kebijakan SMA Gaya Baru yang mulai menggeser bimbingan pekerjaan ke arah  bimbingan akademik. Secara formal, pemberlakuan kurikulum 1975 mengandung penegasan bahwa BK (saat itu disebut bimbingan dan penyuluhan) merupakan bagian integral dalam pendidikan di sekolah. Lahirnya Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) tahun 1975 di Malang, Jawa Timur dan pergantian nama IPBI menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) tahun 2001 dengan kelengkapan divisi-divisi layanan di dalamnya semakin memperkokoh layanan BK dengan berbagai domain layanan yang semakin kompleks; pribadi, sosial, akademik, karir dan layanan pendukung lainnya.
Sementara itu, inisiatif pengembangan model BKK tidak lepas dari pengaruh gelombang reformasi sekolah (school reform movement) yang terjadi di Amerika Serikat sekitar tahun 1980-an sampai dengan 1900-an. Pada tahun 1983, Komisi Nasional Pendidikan di Amerika Serikat saat itu mempublikasikan rekomendasi yang membuat publik tersentak kaget;  A Nation at Risk and The Imperative of Educational Reform (Negara dalam Bahaya; Pentingnya Reformasi Pendidikan). Beberapa komisioner pendidikan menjelaskan bahwa siswa-siswa di Amerika Serikat telah tertinggal jauh dari siswa-siswa yang ada di Eropa Barat dan negara-negara pasifik lainnya dalam hal prestasi akademik.
Fenomena tersebut disebabkan oleh rendahnya standar akademik yang harus dicapai, sebagian besar guru tidak memiliki inspirasi, dan kurikulum yang tidak berkembang optimal. Dalam hal moral, sekolah-sekolah menengah di Amerika Serikat berhadapan dengan tingginya kekerasan di kalangan pelajar, kenaikan rata-rata kehamilan siswa di luar nikah, dan sebagainya. Inilah kenyataan yang terjadi di negeri yang dianggap sebagai kampiun dalam demokrasi dan pendidikan. Di tengah kecaman dunia internasional, terpilihnya  George W. Bush pada tahun 2000 setidak-tidaknya memberi angin segar bagi masa depan reformasi pendidikan di Amerika Serikat.
Di masa Bush, kongres AS telah mengamandemen Undang-Undang Pendidikan Dasar dan Menengah (Elementary and Secondary Act) dan  melahirkan UU yang berpihak pada anak (No Child Left Behind Act). Sampai dengan diterbitkannya UU tersebut, Gysbers mengamati bahwa sebagian besar konselor sekolah di Amerika Serikat lebih banyak disibukkan oleh dan menghabiskan waktu untuk tugas dan kewajiban yang tidak professional. Penelitian yang dilakukan oleh ASCA (American School Counselor Association) menunjukkan bahwa sebagian besar konselor sekolah menghabiskan waktu antara 1 sampai 88% dari keseluruhan waktu bekerja hanya untuk kegiatan-kegiatan yang tidak profesional dan tidak ada kaitannya langsung dengan layanan bimbingan dan konseling. Tugas-tugas yang tidak profesional tersebut menurut ASCA, seperti kegiatan pendaftaran dan mengatur penjadwalan siswa baru (registering and scheduling), menangani problem kedisplinan siswa di sekolah, pengaturan berlebihan dalam hal seragam sekolah, mengerjakan tugas klerikal dan administratif, bahkan sampai dengan menggantikan tugas guru dalam mengajarkan mata pelajaran atau subjek tertentu di luar bidang layanan BK.
Di tengah arus deras reformasi pendidikan, berbagai organisasi profesi bidang layanan BK yang ada di negeri Paman Sam tersebut memandang bahwa reformasi yang terjadi merupakan kesempatan emas untuk mereposisi program bimbingan dan konseling sebagai bagian penting dari misi pendidikan (sekolah) dalam mendukung pencapaian prestasi akademik dan fasilitasi tugas perkembangan siswa di berbagai aspek. Dengan demikian, kesimpulan yang dapat diambil dari fenomena yang terjadi di Amerika Serikat tersebut, yaitu paradigma dan implementasi model BKK merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dari gelombang reformasi sekolah yang terjadi saat itu. Sementara di Indonesia tidak sepenuhnya kita dapat membaca dan menganalisis sejarah ke-BK-an yang ada di Indonesia. Karena profesi bimbingan dan konseling kita sekarang ini belum memasuki fase historis, sebab kita sebagai pelaku sejarah masih mengalami proses untuk membangun visi dan aksi layanan bimbingan dan konseling yang kokoh di masa mendatang.
Walaupun demikian, pada dasarnya warna dan nuansa dunia pendidikan kita (termasuk layanan bimbingan dan konseling) tidak lepas dari momentum, peristiwa penting, dan konstelasi sosial-politik yang telah hadir di Indonesia. Sejarah hanya dapat ditulis berdasarkan rangkaian peristiwa yang saling berhubungan, tidak terkecuali sejarah pendidikan dan perkembangan layanan professional bimbingan dan konseling. Dewasa ini, kita seolah-olah tengah mereplikasi sejarah Amerika. Selama lebih dari satu dekade, bangsa Indonesia tengah memasuki masa reformasi di berbagai bidang, tidak terkecuali pendidikan. Semangat reformasi dalam bidang pendidikan tersebut ditandai oleh keprihatinan yang mendalam seluruh pihak terhadap rendahnya indeks kualitas pembangunan sumber daya manusia yang dilansir oleh berbagai media pemeringkatan internasional, angka partisipasi pendidikan yang rendah, beberapa daerah seperti Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat dan beberapa daerah lainnya bahkan diidentifikasi sebagai “kantong merah” buta aksara, kesenjangan sarana dan prasarana serta kualitas pendidikan di berbagai daerah di tanah air, dan sebagainya. Prof. Dedi Supriadi (Mulpernah mengatakan bahwa sejak Indonesia merdeka tahun 1945 dan bahkan sejak program-program Repelita dimulai tahun 1969/1970 tatkala pembangunan pendidikan mulai dilaksanakan dengan serius, baru 4-5 tahun terakhir ini (2005-2009) sejak reformasi bergulir tahun 1998 merupakan periode yang paling padat perubahan.
Beberapa perubahan yang mendominasi panggung pendidikan selama tahun-tahun tersebut, seperti Pendidikan Berbasis Luas, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Manajemen Berbasis Sekolah, Ujian Akhir Nasional (UAN) yang menggantikan EBTANAS, pembentukan Dewan Sekolah dan Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota. Tahun 2003 bisa jadi merupakan salah satu tahun puncak perubahan tersebut dengan lahirnya UU No 20/Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, lalu diikuti dengan UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, dan  berbagai perangkat peraturan pemerintah dan menteri yang memberi penjabaran lebih luas tentang berbagai perubahan-perubahan dimaksud. Belakangan mulai muncul label-label perubahan yang berseliweran tanpa terkendali; manajemen berbasis sekolah (school-based management), peningkatan mutu berbasis sekolah (school-based quality improvement), belajar berbasis komputer (learning-assisted computer).
Sepanjang tahun 2006 dan akhir 2009 ini, energi seluruh pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan terkuras habis dalam menghadapi proyek nasional dalam skala besar yang melibatkan berbagai kepentingan; Sertifikasi Guru dalam berbagai varian dan bentuk.[6]Pertanyaan lebih lanjut, apakah perubahan-perubahan itu dapat dianggap sebagai tonggak bersejarah telah terjadi reformasi pendidikan (sekolah).  Dalam konteks itu semua, peran bimbingan dan konseling semakin eksis dan diakui secara eksplisit dalam arus besar perubahan dimaksud. Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah, yang dulunya lebih dikenal sebagai kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (BP), dewasa ini semakin penting dan strategis dalam mendukung pencapaian tujuan pendidikan yang holistik. Tujuan utama layanan BK di sekolah adalah memberikan dukungan pada pencapaian kematangan kepribadian, keterampilan sosial, kemampuan akademik, dan bermuara pada terbentuknya kematangan karir individual yang diharapkan dapat bermanfaat di masa yang akan datang.
B.     Model-Model Bimbingan dan Konseling
1.      Model-model Bimbingan Konseling Menurut Para Ahli
a.       Frank Parson menciptakan istilah Vocational Guidance yang menekankan ragam jabatan bimbingan dengan menganalisis diri sendiri, analisis terhadap bidang pekerjaan, serta memadukan keduanya dengan berfikir rasional dan mengutamakan komponen bimbingan pengumpulan data serta wawancara konseling.
b.      Wiliam M.Proctol (1932), mengembangkan model bimbingan mengenalkan dua fungsi yaitu fungsi penyaluran dan fungsi penyesuaian menyangkut bantuan yang diberikan kepada siswa dalam memilih program studi, aktivitas ekstrakulikuler, bentuk rekreasi,  jalur persiapan memegang sesuai dengan kemampuan, bakat,  minat dan cita-cita siswa.
2.      Macam-macam Model-model Konseling
a.       Konseling keterampilan Hidup (life skill counseling)
Merupakan suatu model yang integratif untuk membantu klien agar mampu mengembangakan keterampilan dirinya sendiri. Konseling ini dilakukan bertahap sesuai dengan tahapan perkembangan usia dengan kemampuan individu. Tujuan life skill:
1)     Mampu membantu dirinya sendiri
2)     Menjadi the skill person
b.      Model konseling Respectful
Kerangka kerja konseling ini menekankan tentang perlunya konselor menyadari bahwa perkembangan psikologis dipengaruhi oleh faktor-faktor multidimensi yaitu:
1)      Religius. (R)
2)      Latar belakang ras, budaya atau etnik. (E)
3)      Identitas seksual (S)
4)      Kematangan psikologis (P)
5)      Status sosial ekonomi (E)
6)      Tantangan kronologis (K)
7)      Ancaman (threat) terhadap individu (T)
8)      Sejarah keluarga (F)
9)      Keunikan karakteristik fisik (U)
10)  Lokasi tempat tinggal (L)
3.      Model-model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan Konseling
  Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran.
a.       Koperatif (Coperativ Learning)
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai mahluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas dan rasa senasib. Disini siswa dibiasakan untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab, Serta belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok. Agar kelompok kompak-partisipatif tiap kelmpok terdiri dari 4-5 orang, siswa heterogen, ada kontrol dan fasilitas dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentase.
b.      Kontektual (contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontektual adalah pembelajaran yang dimulai dengan tanya jawab lisan yang terkait dengan dunia nyata siswa sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajikan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa konkret, dan suasana menjadi kondusif dan menyenangkan. Prinsif pembelajaran kontektual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat dan mengembangkan kemampuan sosialisasi.
c.       Pembelajaran Langsung (direc Learning)
Pengetahan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada keterampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Menyiapkan siswa sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah.
d.      Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)
Kehidupan identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah yang otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berfikir tingkat tinggi. Kondisi yang harus tetap dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangakan agar siswa dapat berfikir optimal.
e.       Problem Solving
Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah cara mencari atau menemukan penyelesaian. Siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau aturan yang disajikan, siswa mengidentifikasi, mengeksploitasi, menginvestigasi, menduga dan akhirnya menemukan solusi.
f.       Problem Posing
Problem posing yaitu pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingaga dipahami. Cara belajarnya adalah pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternativ, menyusun soal pertanyaan.
g.      Problem Terbuka (Oven Ended)
Pembelajaran dengan probelm terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara dan soslusinya jaga berbagai macam. Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selain itu siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian model pembelajaran ini lebih mementingakna proses daripada produk yang akan membentuk pola pikir, keterpuasan, dan ragam berpikir.
h.      Probing-prompting
Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berfikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahan baru yang sedang dipelajari. Dengan modael pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa terlibat dalam tanya jawab, kemungkinan akan terjadi suasana tegang namun bisa dibiasakan. Untuk mengurangi kondisi tersebut guru hendaknya merangkaikan pertanyaan disertai dengan wajah ramah, dan daengan nada yang lembut.
C.     Pola-Pola Bimbingan dan Konseling
Menurut hasil analisis Edward C. Glanz, (1964) dalam sejarah perkembangan pelayanan bimbingan di instusi pendidikan muncul empat pola dasar yang diberi nama sebagai berikut:
1.      Pola Generalis
Corak pendidikan dalam suatu instusi pendidikan berpengaruh terhadap kuantitas usaha belajar siswa, dan seluruh stap pendidik dapat menyumbang pada perkembangan keperibadian masing-masing siswa. Ujung pelayanan bimbingan dilihat sebagai program yang kontinyu  yang ditunjukkan kepada siswa. Pada akhirnya, bimbigan hanya dianggap perlu pada saat tertentu saja.
2.      Pola Spesialis
Pelayanan bimbingan disuatu instansi pendidikan harus ditanganai oleh ahli-ahli bimbingan  yang masing-masing berkemampuan khusus dalam pelayanan bimbingan tertentu seperti testing psikologis, bimbingan karir, dan bimbingan konsling.
3.      Pola Kulikuler
Kegiatan bimbingan di instusi pendidikan diusulkan dimasukksn dalam kurikulum pengajaran dalam bentuk pengajaran khusus dalam rangka suatu kursus bimbingan. Segi positif dari pola inilah hubungan langsung terlibat dalam seluk beluk pengajaran, segi negatif terletak dalam pemahaman diri dan perkembangan keperibadian tidak dapat diukur melalui suatu tes hasil belajar seperti terjadi di bidang-bidang studi akademik.
4.      Pola Relasi-relasi Manusia dan kesehatan Mental
Orang akan lebih bangga bila dapat menjaga kesehatan mentalnya dan membina hubungan baik dengan oran lain. Segi positif dari pola ini ialah peningkatan kerjasama antara anggota-anggota staf pendidik di institusi pendidikan dan integrasi sosial diantara peserta didik dengan staf pendidik.  
          Pola Umum Bimbingan dan Konseling di Sekolah ( BK Pola 17) :
a.       Seluruh kegiatan bimbingan dan konseling (BK) didasari satu pemahaman yang menyeluruh dan terpadu tentang wawasan dasar BK yang meliputi pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, dan asas-asas.
b.      Kegiatan BK secara menyelurh meliputi empat bidang bimbingan, yaitu bimbingan pribadi,bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karir.
c.       Kegiatan BK dalam keempat bidang bimbingannya itu diselenggarakan melalui tujuh jenis layanan, yaitu layanan orientasi, informasi, penempatan/penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok.
d.      Untuk mendukung jenis ketujuh layanan itu diselenggarakan lima jenis kegiatan pendukung, yaitu instrumentasi bimbingan dan konseling, himpunan data,  konferensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus.
Pola-pola Manajemen Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah :
Sekolah dan madrasah merupakan suatu lembaga sosial. Selain itu juga merupakan suatu unit kerja. Sebagai suatu unit kerja, sekolah dan madrasah dikelola atau diorganisasi menurut pola-pola atau kerangka hubungan struktural tertentu. Yang dimaksud pola manajemen pelayanan bimbingan dan konseling adalah kerangka hubungan struktural antara berbagai bidang atau berbagai kedudukan dalam pelayanan bimbingan konseling di sekolah dan madrasah. Kerangka hubungan tersbut digambarkan dalam suatu struktur organisasi pelayanan bimbingan dan konseling.
Sekolah dan madrasah yang menganut pola profesional, akan berbeda struktur organisasinya daripada sekolah dan madrasah yang menganut pola nonprofesional, Yang di maksud pola profesional di sini adalah guru pembimbing di sekolah dan madrasah yang bersangkutan direkrut dari alumni BK baik Strata satu (S1), Strata Dua (S2), Strata Tiga (S3). Sedangkan pola nonprofesional biasanya menempatkan kepala sekolah atau madrasah, guru mata pelajaran tertentu, atau wali kelas sebagai petugas bimbingan.
Berbagai pola manajemen di sekolah dan madrasah, yaitu :
a.       Pada pola manajemen dimana kepala sekolah atau madrasah merangkap tugas selain sebagai kepala sekolah dan madrasah juga sebagai guru pembimbing atau sebagai petugas bimbingan utama di sekolah atau madrasah yang bersangkutan, dengan pola seperti itu berarti di sekolah dan madrasah yang bersangkutan tidak memiliki petugas bimbingan yang khusus. (pola nonprofesional)
b.      Pola yang tidak menempatkan kepala sekolah atau madrasah sebagai pembimbing utama. Menunjukkan bahwa sekolah atau madrasah tersebut juga belum memiliki petugas atau tenaga bimbingan khusus, karena pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan oleh wakil kepala sekolah urusan kesiswaan dan para wali kelas. Sehingga wakil kepala sekolah urusan kesiswaan dan para wali kelas memiliki tugas rangkap. (pola nonprofesional)
c.       Pola yang dilaksanakan oleh tenaga bimbingan khusus yang tidak merangkap tugas sebagai guru atau wali kelas. Ini menunjukkan bahwa sekolah atau madrasah tersebt sudah memiliki petugas atau tenaga bimbingan khusus dan tenaga penunjang.


BAB III
PENUTUP

A      Kesimpulan
Pemahaman tentang bimbingan dan konseling sebagai suatu sistem dan kerangka kerja kelembagaan tidak dapat dilepaskan dari pandangan umum bahwa layanan BK merupakan bagian integral dari sistem pendidikan. Di Amerika Serikat, latar kelahiran BK di awal abad 20 bermula dari keprihatinan yang mendalam dari  kalangan dunia pendidikan terhadap carut-marutnya perkembangan kepribadian generasi muda terutama kalangan pelajar di sekolah yang terkena dampak gelombang besar industrialisasi di kota-kota besar; jumlah siswa drop-out meningkat (kaum muda lebih memilih bekerja ketimbang sekolah, sementara keterampilan kerja tidak memadai), pergeseran nilai dalam keluarga dan masyarakat, urbanisasi besar-besaran dari desa ke kota, dan problem-problem sosial yang lain. Gerakan bimbingan yang muncul di AS dalam bentuk bimbingan pekerjaan (vocational guidance) tersebut membawa pengaruh besar terhadap banyak negara lainnya, seperti Filipina, Malaysia, India, dan tidak terkecuali Indonesia.  Gunawan menjelaskan bahwa pada periode awal kemerdekaan masalah bimbingan pekerjaan baru diperhatikan oleh jawatan yang mengurus masalah tenaga kerja. Pola-pola Bimbingan dan konsling
Menurut hasil analisis Edward C. Glanz, (1964) dalam sejarah perkembangan pelayanan bimbingan di instusi pendidikan muncul empat pola dasar yang diberi nama sebagai berikut:
1.      Pola Generalis
2.      Pola Spesialis
3.      Pola Kulikuler
4.      Pola Relasi-relasi Manusia dan kesehatan Mental
Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran.
1.      Koperatif (Coperativ Learning)
2.      Kontektual (contextual Teaching and Learning)
3.      Pembelajaran Langsung (direc Learning)
4.      Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)
5.      Problem Solving
6.      Problem Posing
7.      Problem Terbuka (Oven Ended)
8.      Probing-prompting
B       Kritik dan Saran
Sebagai calon Guru, kita diharuskan memahami karakter setiap siswa/i untuk mengetahui apa yang harus dilakukan seorang guru jika salah seorang muridnya melakukan kesalahan ataupun memiliki masalah. Seorang guru harusnya bisa jadi teman untuk bisa menceritakan masalah yang mungkin tidak bisa diselesaikan sendiri.

 Daftar Pustaka
Fathur Rahman. Modul Ajar Pengembangan dan Evaluasi Program BK.
Fingeredia. Model-model pembelajaran BK.  http//www.wordpress.com, diakses tanggal 27 Januari 2010,  pukul 10.12 WITA.
Mihwanudin. Model Bimbingan dan Konselinghttp//www.wordpress.com, diakses tanggal 7 November 2013, pukul 10.12 WITA.
Prayitno. panduan kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta), 2001.
Tohirin. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta: PT Raja Grafindo, 2011.


Listiono Budi, “ Pola-pola Bimbingan dan Konseling dalam Sejarah ”,http//www.blogspot.com, diakses  tanggal 4 februari 2011 pukul 09.24 WITA.

Komentar

  1. mantaabb,, tpi lihatknpa ada tulisan di atas blognya,, di rapikan tulisannya juga yaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aby A. Izzuddin

Prisma dan Limas