Belajar ikhlas itu Berat

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tulisan ini hanya pendapat saya pribadi, jika ada kata yang salah mohon koreksi, karena saya sungguh manusia yang penuh dengan kekurangan🙏🏻

Sesuai judul, Belajar Ikhlas itu Berat.
Ada mungkin beberapa orang yang menganggap Ikhlas sangat berat diterapkan, mulut berkata "aku ikhlas" tapi hati, pikiran, jiwa, tetap mengingat sesuatu yang mungkin menurutnya sangat amat menyakiti hati.

Sebagai contoh pengalamanku pribadi. Aku dulu awal tahun 2020 menikah dengan salah seorang yang telah ditetapkan sebagai jodohku, yang Alhamdulillah aku juga sangat amat cinta terhadap suamiku. 

Kami kenal sewaktu aku kuliah di salah satu Universitas di Lombok khususnya Mataram. Rumah suamiku tepat di belakang pascasarjana universitas ku, dan kos ku bersebelahan dengan rumah suamiku. 

Lambat laun yang dari tidak kenal menjadi kenal, bahkan sekarang usia pernikahanku sudah menginjak 2 tahun setengah. Alhamdulillah kami diberi amanah menjaga bayi mungil yang dititipkan Allah setelah 2 tahun pernikahan.

Awal menikah, aku dan suami tinggal bersama mertua perempuanku (orang tua suamiku cerai), ipar, adik mertuaku dan ada beberapa anggota keluarga lainnya yang satu atap bersamaku.

Kalau sudah ada kata "satu atap bersama mertua", banyak kemungkinan kita akan berspekulasi bahwa pasti mertuanya gak baik, pasti mertuanya ini itu ini itu.

Alhamdulillah mertuaku menganggap ku sebagai anak, bukan sebagai menantu. Kami hidup sangat amat harmonis, dengan kesederhanaan hidup yang kami miliki.

Setelah beberapa bulan pernikahanku, sudah sangat banyak uneg-uneg yang ku sumbunyikan sendiri, sehingga aku yang dulunya sangat ceria jadi terlihat murung.

Uneg-uneg ku selalu ku curahkan kepada suamiku, Alhamdulillah suamiku memahami keadaanku, dan suamiku juga sudah tau apa penyebab kemurungan ku setiap kali pulang kerja.

Mungkin aku yang terlalu cengeng, terlalu ambil hati apa kata orang. Aku memang seperti itu adanya, aku hanya berusaha menjaga hati orang lain, tapi aku lupa menjaga hatiku sendiri. Aku terlalu sibuk dengan perkataan orang-orang itu. Aku Bodoh.

Akhirnya, aku dan suamiku pindah ke rumah pondok yang sudah dibuatkan mertua laki-laki ku. Rumah pondok yang kami tempati terbuat dari bambu (99% dari bambu), berada di tengah-tengah sawah orang, tapi Alhamdulillah kami hidup sangat aman tenteram. Tidak ada riuh ricuh omongan orang. Aku sangat nyaman.

BERSAMBUNG...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aby A. Izzuddin

Prisma dan Limas