Kepada Kamu

Kepada kamu, terima kasih telah melukai. Sebab dengan begitu, aku jadi sadar bahwa kamu adalah lelaki yang tak layak menjadi suamiku. Adalah pria yang tak pantas menjadi ayah dari anak-anakku di kelak waktu.
. 
Ya ya yaaa... 
. 
Aku tahu. Aku tahu butuh waktu untuk melupakan-mu. Butuh jutaan detik untuk melepaskan perasaan ini. Tetapi aku punya satu cara untuk menyelesaikan kepiluan ini. Apa itu? Tak lagi memberimu kesempatan. Sebab bagiku, tak boleh ada sisa untuk cerita kita. Sedikit pun. 
. 
Dengarlah, walau hati yang dulu kaugenggam ini sudah kaupatahkan, aku akan tetap memaafkanmu. Meski benar bahwa memaafkan tak bisa berubah masa lalu, tapi setidaknya, ia bisa memperbaiki masa depan. 
. 
Hei, jangan ge-er dulu.
. 
Catat, ya. Aku hanya bisa memaafkan. Untuk kesempatan, sekali lagi sorry, ribuan kali kau mengetuk pun, sungguh aku tak akan membukanya. Jutaan kali kau mengemis pun, Demi Allah aku tak sudi memberinya.
. 
Aku memang patah, namun aku tidak lemah. Esok pagi, bersama sang fajar, aku pasti akan kembali menemukan senyum. Menemukan senyum yang kemarin hilang oleh sebuah penghianatan. 
. 
Aku sudah menguburkan kisah kita di bumi penglupaan. Meski terkadang, hantu kenangan-nya masih terus bergentayangan. Mengganggu malam-malam. Tetapi setelah air mata ini bosan menetes, akhirnya aku paham. Aku paham bahwa kenangan bukan untuk dilupakan. Ia untuk diberi pilihan. Dan kau tahu? Yeah, aku sudah putuskan untuk memilih bahagia. 
. 
Ah baik, kukira itu saja, ya. 
. 
Sekali lagi terima kasih atas luka yang kaugoreskan ini. Aku jadi mengerti, bahwa rasa tak menjamin bahagia. Maka di esok kelak, aku tak ingin lagi memilih dengan rasa, aku akan memilih dengan taqwa. Memilih seseorang yang memapah bahuku menuju surga. Yang menggamit lenganku dengan cinta. 
. 
Dan pastinya, bukan kamu. 

. 
~Aby A. Izzuddin~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aby A. Izzuddin

Prisma dan Limas